55. Cinta, Ada Batas dan Rambu-Rambunya
📚 Terjemah Kitab At-thariq Ilal Quluub (Perjalanan Ke Hati)
Pengalaman hidup, terutama dalam berumah-tangga, telah membuktikan bahwa
keterbukaan yang berlebih-an antarsesama, terutama antarsuami-istri,
merupakan sesuatu yang tidak terpuji. Apalagi bila terjadi benturan
perasaan antara suami-istri. Ada anggapan bahwa antar-orang yang saling
mencinta tidak akan terjadi saling mencela. Padahal, seorang suami atau
istri pasti memiliki kepribadian tersendiri yang dibanggakan. Banyak
perselisihan bermula dari perasaan bersalah bila melampaui batas-batas
kesopanan. Tetapi, bila perasaan ini sudah hilang, maka perselisihan
akan semakin keras menjurus kasar, sehingga untuk mengembalikan ke
kondisi semula memperlukan waktu. Yang terbaik di antara mereka adalah
yang memulai meredam kema-rahannya demi kemaslahatan masa depan keluarga.
Hal ini dapat dilakukan dengan diam dan tidak memperturut-kan gejolak
emosi serta mengalihkannya pada aktivitas lain, misalnya melakukan
pekerjaan rumah, membaca Al-Qur'an, membaca buku-buku Sirah, atau
berwudhu dan sholat.
Wahai muslimah, ketika engkau marah, jangan segera meninggalkan rumah,
sebab hal itu pasti akan memperuncing masalah. Memang, banyak keluhan
para istri yang disebabkan oleh sikap suaminya. Di antara-nya, suami
kalau pulang sudah larut malam sementara anak-anaknya sudah terlelap
tidur, padahal sepanjang malam ibunya telah menjanjikan bahwa ayahnya
segera datang. Apalagi kalau suaminya semalaman begadang di nightclub,
warung kopi, atau tempat-tempat lain. Hal ini pun diketahui oleh
istrinya sehingga membuat hati dan perasaannya kesal, tetapi ia takut
mengeluarkan kata-kata yang dapat merusak masa depan keluarga. Akhirnya,
hidupnya semakin terasa kering dan beku. Hal ini diperparah ketika sang
istri menyaksikan seba-gian tetangganya tidak seperti yang ia alami,
suami mereka sudah berada di tengah-tengah keluarga sejak sore. Inilah
sesungguhnya kebahagiaan yang didambakan seorang istri.
Barangkali ada sebagian istri yang termasuk tipe pertama, menahan amarah
dengan menampakkan muka cemberut kepada suami. Sikapnya akan tetap
seperti itu setiap kali melihat tingkah suaminya. Sementara suaminya
tetap tidak melayani sikap seperti itu ketika pulang ke rumah. Inilah
awal kedamaian. Betapa indahnya, bila sang istri menunda keluhan dan
masalahnya sampai suami istirahat. Menatap dengan penuh senyum dan
lapang dada dalam menghadapi kesedihan. Mengena-kan pakaian yang terbaik
dan mempersiapkan anak- anaknya untuk menyambut ayahnya dengan
melantun-kan nasyid, "Ayah telah datang... datang pukul enam... naik
kendaraan...tidak jalan kaki... naik sepeda..." dan Iain-lain.
Seorang istri harus memahami tugasnya dengan baik, sebab ini adalah
langkah awal untuk membenahi diri suami dan anak-anaknya. Ia juga harus
menatap masa depan dengan penuh optimisme. Ini akan dapat mem-bantunya
dalam mengemban beban dengan hati lapang dan jiwa yang tenang. Setiap
suami-istri harus mengembangkan tanggung jawabnya masing-masing, tidak
boleh merasa hanya punya hak tetapi tidak punya kewajiban.
Bila tampak kesalahan
pada saudaramu Maka ampunilah kesalahannya
Di antara rahmat Allah kepada para istri, menjadikan sebagian acara
keluarga yang menyenangkan sebagai sarana untuk menghilangkan ketegangan
dan menghapus pertengkaran. Seperti juga bila sering terjadi
perteng-karan antara suami-istri kerana suatu sebab, kemudian Allah
memberi cobaan sakit ringan kepada salah seorang di antara mereka. Maka
pada saat itulah perasaan segera tergerak untuk menyelamatkan kondisi
ini. Sehingga perasaan marah akan segera padam dalam waktu relatif
singkat, sebelum tergoda oleh bisikan-bisikan lain dari setan.
Demikianlah, senantiasa dianjurkan untuk mengetahui risalah pernikahan
agar tidak terjadi benturan-benturan perasaan.
Bagikan ini :
Comments
Post a Comment
Silakan berkomentar secara bijak dan sesuai dengan pembahasan