14. Memperbanyak Istighfar



📚 Terjemah Kitab Minah As-Saniyah (Menjadi Kekasih Tuhan)



Diriwayatkan, Rasul membaca istighfar sampai 70 kali dalam sehari semalam.

"Sungguh, aku beristighfar dan meminta ampun kepada Allah, 70 kali sehari". "Hatiku selalu tertindih dan aku selalu meminta ampun kepada Allah 100 kali (sehari)".

Berdasar hal itu, Abu Hasan As-Syadzili memerintahkan para muridnya untuk senantiasa beristighfar kepada Allah. Bisa dibayangkan, Rasul yang maksum (terjaga dan diampuni dosanya) beristighfar sebanyak itu, bagaimana dengan kita yang tidak terjaga? Mestinya harus lebih banyak dari itu.

Waktu beristighfar, pertama, pagi dan sore hari. Diriwayatkan, setiap hari malaikat pencacat amal manusia senantiasa naik membawa laporan. Allah tidak melihat apa yang ada didalamnya, kecuali pada awal dan akhir catatan. "Benar benar Aku ampuni dosa hamba-Ku yang tercatat diantara awal dan akhir catatan ini". Maka, sungguh beruntung mereka yang dalam buku catatannya banyak dijumpai permohonan maaf (istighfar).

Kedua, saat dilanda kesulitan dalam soal ekonomi. Diriwayatkan, "Siapa yang membiasakan diri membaca istighfar, akan diberikan jalan keluar dari setiap kesempitan, diberikan kelapangan dari setiap kesusahan dan diberikan rizqi dari setiap arah yang tidak terduga".

Ketiga, saat terjerumus dalam perbuatan maksiat dan dosa. Diriwayatkan, bahwa malaikat penulis amal tidak langsung mencatat dosa seseorang; ditunggu sampai beberapa saat. Bila orang tersebut sadar dan mau segera meminta ampun kepada Tuhan, maka akan diampuni dosanya (tidak dicatat kesalahannya) dan di akherat tidak akan disiksa.

Keempat, sehabis melakukan segala perbuatan baik. Hal ini dimaksudkan untuk menyadarkan manusia, bahwa apa yang dilakukan belum tentu sempurna. Mungkin masih banyak kesalahan, kekurangan dan cacat; karena tidak khusyuk, bercampur riya, ujub, sombong dan lain-lain.

Rasul sendiri selalu membaca istighfar 3 kali begitu selesai melaksanakan sholat fardhu.

Demikianlah, setiap orang hendaknya selalu meminta ampun kepada Allah (memperbanyak istighfar); siang dan malam, setelah mengerjakan dosa atau tidak. Sehingga, ia bisa sedikit lega dari kemungkinan turunnya siksa atau adzab.

Allah berfirman; "Allah tidak akan menyiksa mereka yang senantiasa meminta ampun" (Al- Anfal, 33).

Catatan: Selain orang yang terjerumus dalam dosa, orang yang dianggap baik oleh masyarakat padahal sebenarnya tidak demikian, ia harus juga banyak beristighfar. Harus banyak minta ampun kepada Allah, karena ia (secara tidak langsung) berarti telah "mengelabui" masyarakat; tidak sesuai dengan yang mereka ketahui dan perkirakan.

Para ulama menyatakan, sejelek-jelek manusia adalah orang yang dianggap baik oleh masyarakat, padahal yang ada sebenarnya tidak demikian. Ia senang dipuji, tetapi tidak mau meneliti dan menyadari kekurangannya sendiri. Orang yang baik tidak demikian. Ia tahu dan sadar akan kelebihannya, tetapi juga sadar akan kelemahan dan kekurangannya. Sedemikian, sehingga bisa melihat dan menempatkan dirinya secara proporsional; tidak terlalu disanjung, tetapi juga tidak diremehkan. Ia selalu beristighfar terhadap kesalahan dan kekurangannya.

Bagikan ini :

Comments

Popular posts from this blog

Terjemahan Kitab Kifayatul Awam (Tauhid)

Terjemahan Kitab Qami' Ath-Thughyan (77 Cabang Iman)

Buku Islahul Qulub (Jernihkan Hati)

Terjemahan Kitab Mukasyafah Al-Qulub (Bening Hati Dengan Ilmu Tasawuf)

Terjemahan Kitab Nashoihul Ibad

Terjemahan Kitab Syarah Al-Hikam