Bab 4. Walimah



📚 Terjemah Kitab Ringkasan Tabyinul Ishlah Li Muridin Nikah



1. Hukum Walimah
Bahwa hukum sedekah walimah atas pengantin adalah sunnah, dan hukum menepati undangan walimah itu wajib ain, kecuali ada udzur. Dan tidak wajib datang untuk makan dari makanan walimah.

2. Uzur Walimah
Tidak wajib mendatangi sedekah walimah sebab diketahui terdapat udzur, bahkan terkadang menjadi haram, karena di tempat tersebut terdapat salah satu munkar.

Adapun sebagian halangan walimah ialah sebagai berikut:
  • 1. Terdapat khomr (minuman keras) untuk minum-minuman.
  • 2. Terdapat seperangkat alat musik yang haram.
  • 3. Terdapat wanita yang membuka aurat.
  • 4. Terdapat bentuk (jawa:rupan) binatang sempurna terletak di atas.
  • 5. Dan sebagainya.
Apabila ditempat (majelis) walimah tersebut terdapat salah satu bentuk munkar yang tidak dihilangkan ketika hadir, maka tidaklah wajib menghadiri undangan itu. Tetapi haram bagi orang yang sengaja datang, karena datang ke tempat munkar hukumnya haram kecuali ada kemampuan melarang munkar tersebut hingga hilang. Dan ketika datang ke tempat tersebut mampu menghilangkan munkar, maka hadirnya ke majelis tersebut justru menjadi wajib. (Al Bajuri: II/138).

3. Haram Hadir Dalam Majelis
Haram hukumnya bagi seseorang datang dengan sengaja bila mengetahui bahwa di tempat itu terdapat munkar seperti orang meminum arak(minuman keras), memakai pakaian haram seperti sutera (murni) dan cincin emas yang dipakai lelaki dan terdapat bentuk binatang yang terletak di atas dan (atau) tembok (pagar). Keharaman tersebut terjadi jika memang tidak dihilangkan dengan kehadirannya. (Al Bajuri: II/128-129).

4. Penyebab Rusaknya Nikah
Prosesi pernikahan bisa terjadi tidak sah karena terdapat munkar yang tidak segera dihilangkan sebelum acara akad nikah dimulai. Majelis walimah dengan sedekahnya bisa berubah hukumnya dari sunah menjadi haram karena terdapat munkar yang tidak dihilangkan, sehingga orang-orang yang sudah siap menjadi saksi rusak sifat keadilannya, karena mereka berada di majelis munkar, padahal dalam hal ini mereka (saksi adil) berkuasa melarang. Atau memang sengaja membiarkan adanya munkar tersebut dengan dalih sudah menjadi kebiasaan (adat) yang sulit dilarang. Hal inilah yang dapat menggugurkan dan membatalka kedudukan atau status mereka (saksi) menjadi saksi pengantin dalam akad nikah. Karena membiarkan adanya munkar termasuk dosa besar yang dapat menghilangkan sifat keadilan seorang saksi sehingga para saksi ini menjadi fasiq. Dengan demikian akad nikah yang mereka saksikan menjadi batal karenanya. (Keteragan selengkapnya bisa melihat syarat-syarat sah saksi akad nikah dalam kitab-kitab fiqih untuk menjadi perbandingan).

5. Tentang pahala beristri
Bagi seseorang yang telah beristri akan mendapat balasan pahala dari Allah cukup banyak. Rasulullah SAW bersabda: “Siapa orang yang menyentuh wanita (istrinya), maka baginya sepuluh kebajikan, siapa berkumpul (mendekap) istrinya sampai ke dada, maka baginya dua puluh kebajikan, siapa mencium istrinya, maka baginya, delapan buluh kebajikan, dan siapa yang menyetubuhi istrinya, maka baginya seratus kebajikan. Ketika dua orang tersebut mandi janabah, Allah ciptakan dari setiap satu tetes air janabah itu menjadi malaikat seraya membaca tasbih untuk mereka, dan memohonkan ampun kepada Allah semua malaikat itu atas dosa-dosa mereka sampai hari kiamat”.

6. Hukum Sedekah (Walimatul ’Ursy)
Imam Syafi'i berkata: Bahwa sunnah bersedekah dengan mengadakan walimah pernikahan (walimatul ’ursy) untuk seluruh tamu undangan, hal ini dikarenakan sedekah itu akan mendatangkan kebahagiaan dalam hati (bagi orang yang mengundang karena pernikahan). Dan menurut kebiasaan bahwa paling sedikit sedekah walimah bagi orang yang banyak hartanya adalah satu kambing dan bagi yang sedikit hartanya yaitu apa saja yang sudah memenuhi sunnah walimah (bahkan air putih pun cukup untuk dijadikan sedekah walimah). Dan adapun macam-macam dan ragam walimah itu sangatlah banyak. (Hamisy Al Bajuri: II/125).

7. Macam-macam Walimah Yang Disunahkan
Walimah-walimah yang terkenal di dunia islam ialah 11 macam:
  • 1. Al Khursu: walimah untuk wanita bersalin.
  • 2. Al Aqiqatu: walimah untuk anak.
  • 3. Al I’dzaru: walimah untuk khitanan, sunatan.
  • 4. Al Milaku: walimah untuk akad nikah.
  • 5. Al „Ursu: walimah untuk sesudah dukhul.
  • 6. Al Hidzaku lihifdzil Qur’an: walimah untuk lafadz al-Qur'an.
  • 7. Al Hidzaku lihifdzil Adab: walimah untuk hafadz ilmu-ilmu sastra.
  • 8. Al Ma’dubatu: walimah untuk tanpa sebab apa-apa.
  • 9. Al Waqiratu: walimah untuk selesai membuat rumah.
  • 10. Al Naqi’atu: walimah untuk tiba dari perjalanan.
  • 11. Al Wadlimatu: walimat untuk orang yang mendapat kesusahan.
8. Hukum Tamu Memakan Jamuan
Halal bagi tamu untuk memakan sebagian makanan yang disediakan untuk tamu tanpa perlu meminta izin dari pemilik makanan pada walimah, hal ini dikarenakan dengan melihat tanda kebiasaan. Akan berbeda hukumnya jika masih menunggu tamu undangan yang lain.

Dan halal mengambil makanan bila diketahui ridho (kerelaan) dari orang yang mempunyai makanan itu. Dan sebaliknya tidak halal (haram) bila hatinya ragu-ragu dan tidak dapat menggunakan prasangka atas halalnya makanan itu. (Syarah Al Minhaj: II/62).

9. Tathafful
Adapun anak ikut hadir orang menghadiri undangan (ikut makan bersama) tanpa dengan izin (yakin atau sangkaan), maka hukumnya haram, kecuali bila mengetahui ridhonya yang punya makanan, seperti sanak keluarga sendiri, atau memang satu sama lain saling kasih sayang. (Syarah Al Minhaj: II/63).

10. Adab Duduk Dalam Makan
Bagi orang yang makan disunahkan duduk bersila atas kedua lututnya diletakkan, dan punggung kedua tapak kaki diletakkan dilantai, atau ditegakkan kakinya yang kanan dan menduduki atas kaki yang kiri. (Hamisy I’anatut Thalibin: III/367).

Bila duduk bersama disuatu majelis, hendaklah bersila karena selain duduk bersila itu sesuai dengan sunnah rasul, juga tidak bertentangan dengan kebiasaan sopan santun masyarakat jawa. Dan hal itu termasuk perilaku yang patut untuk dilaksanakan, karena dapat menghindarkan sakit hati orang yang berada disebelahnya.

Adapun duduk “jengkeng” itu sesuai dengan sunnah Rasul. Akan tetapi menurut kebiasaan sopan santun masyarakat jawa hal tersebut tidak baik atau “deksura dan ladak”. Duduk “jengkeng” itu membuat sakit hati orang yang berada disebelahnya. Hal tersebut bisa termasuk perilaku orang yang sombong.

11. Kesopanan Jabat Tangan
Berjabat tangan atau mushafahah, hendaknya menggunakan kedua tangan, karena hal itu merupakan sunnah Rasul dan sesuai dengan tradisi sopan santun orang Jawa. Disamping itu juga menghargai dan memulyakan orang yang diajak jabat tangan.

Berjabat tangan atau mushafahah menggunakan satu tangan memang tidak melanggar sunnah Rasul, tetapi menurut tradisi sopan santun orang jawa tidak baik atau “deksura”, bahkan “ladak”. Dimana pada umumnya orang akan sakit hati apabila mushafahah menyodorkan dua tangan lalu dibalas hanya satu tangan. Bahkan ada kesan sombong dan takabur.

12. Kesopanan Hormat
Hormat sesama teman seagama atau teman akrab memang sunnah Rasul dan mendapat pahala bagi yang melakukan hal tersebut selama penghormatan itu tidak melampaui had atau batas yang diizinkan.

Akan tetapi bila penghormatan itu melampaui batas, maka tidak dibenarkan (haram), misalnya hormat kepada seseorang yang dianggap mulai dengan menunduk hingga batas rukuk. Apabila penghormatan tersebut berupa sujud kepada seseorang, maka menjadi rusak dan iman dan Islamnya (murtad).

13. Etika Makan dan Minum
Bagi orang yang hendak makan, sebelumnya disunnahkan membasuh dan membersihkan kedua tangannya. Demikian juga disunnahkan membasuh dan membersihkan kedua tangan setelah selesai makan.

Disunnahkan pula setelah selesai makan membaca surat Ikhlash dan surat Quraisy, yang dimaksudkan untuk bersyukur kepada Allah SWT. Dan sunnah pula membaca “Basmalah” sebelum makan. (Fathul Mu’in, Hamisy I’anatut Thalibin: II/367).

14. Membesarkan Suap Makan
Dan haram membesarkan suap makan, sehingga terlalu banyak menyantap makanan lain yang bukan disediakan untuknya, kecuali mengetahui kerelaan temannya. (Hamisy I’anatut Thalibin: II/368).

15. Hukum Memukul Rebana
Boleh memukul terbang (rebana) dikarenakan adanya walimah pengantin dan walimah khitan. Dan boleh juga memukul rebana karena selain kedua walimah tersebut. Dan menurut Qaul Ashah, kebolehan tersebut yaitu sekalipun di dalam terbang terdapat jalajil atau “kencer”, yaitu dimana sebagian dari itu untuk menunjukkan kesenangan dan kegembiraan sebagai tanda syukur kepada Allah atas nikmat yang diberikan. (Mughnil Muhtaj: IV/329, Nihayatul Muhtaj: VII/297).

16. Keharaman Dalam Memukul Rebana
Hukum memukul menjadi haram karena disebabkan untuk mendukung kemaksiatan, yaitu dimana pada majlis (tempat) tersebut terdapat munkar yang tidak segera dihilangkan. Hukum memukul rebana adalah mubah, namun menghilangkan munkar hukumnya fardhu. Sehingga mendahulukan mubah dari fardhu kifayah itu termasuk berdosa (Bidayatul Hidayah: 3).

17. Mengambil Milik Orang Lain
Hukum seseorang mengambil milik orang lain, baik berupa barang ataupun uang adalah haram (dosa besar). Adapun jika seseorang mengambil milik orang lain, berupa barang atau uang karena memiliki dasar dhon (sangkaan) yang benar atas kerelaan orang yang memiliki barang atau uang tersebut, maka hukumnya adalah halal. Namun haruslah hati-hati dalam melihat kebiasaan orang. Karena tiap orang pasti berbeda-beda dalam mengamalkan sangkaan, sehingga harus dilihat pada perbedaan watak dermawan atau bakhilnya seseorang. Tentunya sangat berbeda watak seseorang terhadap orang yang disayangi dan orang yang dibenci. (Al Bajuri: II/128).

18. Mengambil Harta Syubhat
Di dalam kitab Al Majmu' Syarh Al Muhadzab, Imam Nawawi menuturkan: Makruh mengambil harta syubhat (tidak jelas halal atau haram) dari orang yang memiliki harta halal dan haram, seperti sulthan jair (pemerintah yang korup). Dan tingkat kemakruhan harta syubhat menjadi berbeda-beda disebabkan oleh sedikit dan banyaknya harta halal dan haram yang tercampur di dalamnya. Dan harta syubhat itu tidak haram kecuali jika menyakini bahwa harta itu berasal dari haram.

Perkataan Imam Ghazali yaitu mengharamkan untuk mengambil harta dari orang yang memiliki banyak harta haram. Demikian pula, terhukum haram saat melakukan muamalah (jual beli) dengan orang yang memiliki banyak harta haram. Pendapat Ghazali tersebut sebenarnya termasuk syadz (ekslusif) atau pendapat tersebut berbeda hukum (melenceng) dari madzhab Syafi'i, yang tidak mengharamkan harta syubhat. Hal demikian tersebut merupakan pandangan menurut qaul yang mu'tamad, sebab masih diihtimalkan (dimungkinkan) pada adanya harta halal yang dimiliki, juga diberatkan pada halalnya harta yang akan diambil. (Hamisy I’anatut Thalibin: II/214).

Dalam hadits Nabi sebenarnya telah disabdakan:

”Sesungguhnya sesuatu yang halal telah jelas tentang kehalalannya, dan sesuatu yang haram telah jelas dalam keharamannya, dan diantara keduanya (halal dan haram) adalah syubhat”.

19. Pura-Pura Menjadi Orang Sholeh
Imam Zarkasyi berkata: Bahwa orang yang tidak shalih berhias dengan perhiasan orang shaleh, bila memperdayakan (menipu) sebab perhiasannya terhadap orang lain, bahkan disangka sebagai seorang yang shaleh lalu diberi sedekah maka hukumnya adalah haram. Dan hukum tersebut telah jelas jika memang mengharapkan sedekah dari orang lain. (Tuhfatul Muhtaj: III/37, Nihayatul Muhtaj: IV/382).

Ulama berkata: Siapa orang yang diberi sesuatu harta karena sifatnya yang disangka benar pada orang tersebut, padahal ia tidak memiliki sifat tersebut, maka haramlah baginya menerima pemberian harta sedekah, dan tidak dapat memiliki harta dari sedekah tersebut karena adanya unsur penipuan (Tuhfatul Muhtaj: III/35).

Dan juga yang jelas haram hukumnya diataranya adalah orang yang bukan haji menerima harta pemberian dari orang yang menyangka padanya haji karena memakai surban (misalnya). Dan juga haram seorang haji bodohm Menerima pemberian harta sedekah dari orang yang menyangka dirinya alim dan adil.

Bagikan ini :

Comments

Popular posts from this blog

Terjemahan Kitab Kifayatul Awam (Tauhid)

Terjemahan Kitab Qami' Ath-Thughyan (77 Cabang Iman)

Buku Islahul Qulub (Jernihkan Hati)

Terjemahan Kitab Mukasyafah Al-Qulub (Bening Hati Dengan Ilmu Tasawuf)

Terjemahan Kitab Nashoihul Ibad

Terjemahan Kitab Syarah Al-Hikam